Perbandingan pasir dan Abu Batu
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Jalan raya merupakan salah satu prasarana transportasi yang memegang
peranan penting dalam pembangunan di
segala bidang. Konstruksi jalan yang
direncanakan, harus memenuhi syarat ekonomis dan syarat teknis, sehingga dapat
memberikan kenyamanan bagi pemakaian jalan. Syarat teknis yang harus dipenuhi
konstruksi tersebut adalah secara fungsional dan struktural. Secara fungsional
dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pemakaian jalan, sedangkan secara
struktural dapat memikul beban yang
berkerja. Dengan
adanya prasarana jalan, hubungan antara daerah satu dengan daerah yang lainnya
menjadi lancar dan mudah, sehingga kegiatan - kegiatan di segala sektor pembangunan dapat berjalan
dengan baik.
Pada umumnya, hampir sebagian besar konstruksi jalan di Indonesia
menggunakan aspal minyak, salah satunya
adalah aspal emulsi. Campuran aspal emulsi merupakan jenis aspal yang dapat digunakan
sebagai lapisan sub base, base, maupun lapisan permukaan (aus) dan patching
(penambahan). Sedangkan pasir dan
abu batu harus dipenuhi adalah stabilitas dan durbalitas. Stabilitas pada
LATASTON (Lapis Tipis Aspal Beton) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
gradasi,variasi aspal dan material. Sedangkan durabilitas dipengaruhi oleh
selimut aspal yang tebal,rongga udara didalam campuran kecil dan rongga antar
butir besar.
Namun pelaksanaan sering terjadi
penyimpangan dari yang telah ditentukan pada spesifikasi Bina Marga seperti
terjadinya sungkur,kegemukan,retak dan sebagainya. Oleh karena itu dibuatlah
variasi komposisi pasir dan abu batu untuk menghasilkan karakteristik yang
ideal yang dapat digunakan sesuai dengan keadaan. Proses penelitiannya dimulai dari pemeriksaan masing-masing
material campuran, pemeriksaan kadar air pelekatan, pemeriksaan kadar air
pemadatan, pemeriksaan kadar aspal emulsi campuran, pemadatan benda uji, serta pengujian
Marshall.
Hal tersebut di atas yang melatar belakangi penulisan tugas akhir
ini dengan judul :
“STUDI
PERBANDINGAN PASIR DAN ABU BATU PADA KARAKTERISTIK CAMPURAN HRS ASPAL EMULSI
DENGAN DURASI WAKTU PERENDAMAN”
Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan studi perbandingan
pasir dan abu batu pada karakteristik campuran HRS aspal emulsi.
Sedangkan tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi durasi perendaman selama 1,
4, dan 7 hari terhadap karakteristik campuran HRS aspal Emulsi.
Ruang Lingkup dan Batasan
Masalah
1.1.1.
Ruang
Lingkup
Ruang lingkup dari penelitian
ini adalah :
1. Melakukan
penelitian terhadap perbandingan karakteristik HRS aspal emulsi pada pasir dan
abu batu.
2. Melakukan
pengujian utama yang meliputi :
Ø pengujian
perendaman
Ø pengujian marshall.
3. Melakukan
analisa hasil pengujian
1.1.2.
Batasan
Masalah
Untuk
mendukung tujuan penulisan, pembahasan dibatasi pada hal-hal berikut :
1. Penelitian
ini berupa penelitian eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Teknik
Sipil Universitas 45 Makassar.
2. Campuran
yang digunakan adalah campuran aspal emulsi dengan durasi perendaman 1,4 dan 7
hari.
3. Aspal
emulsi yang di gunakan diperoleh dari PT. Sinar Jaya Abadi ACC.
4. Jenis
gradasi yang di gunakan adalah gradasi rapat dan gradasi senjang.
5. Agregat
kasar dan halus yang di gunakan adalah agregat dari Stone Crusher PT. Sinar
Jaya Abadi ACC.
1.2. Tinjauan Umum Penulisan
Penelitian
ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan serangkaian pengujian
di laboratorium Teknik Sipil Universitas 45 Makassar. Penelitian eksperimental
yang dilakukan adalah analisa perbandingan pasir dan abu batu pada campuran
aspal emulsi tipe HRS. Pengujian dilakukan dengan serangkaian pemeriksaan
material yang hasilnya disajikan dalam bentuk grafik.
1.3.
Sistematika
Penulisan
Secara garis besar kami
uraikan materi penulisan tugas akhir ini, dalam komposisi bab sebagai berikut :
BAB
I : PENDAHULUAN
Bab ini memberikan gambaran umum yang
berisikan latar belakang, maksud dan
tujuan penulisan, ruang lingkup dan batas masalah, tinjauan umum penulisan serta
sistematika penulisan.
BAB
II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas mengenai
teori-teori yang mendukung penelitian yang akan dilakukan.
BAB
III : METODE PENELITIAN
Bab ini membahas tentang
bagan alir penelitian, lokasi dan waktu penelitian serta metode penelitian yang
berisikan tentang prosedur pelaksanaan penelitian.
BAB
IV : HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas analisa
hasil pengujian Test Marshall dan perbandingan pasir dengan abu batu pada
campuran aspal emulsi.
BAB
V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan penutup
yang berisikan kesimpulan dan saran dari keseluruhan penelitian.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Tinjauan Umum Perkerasan
Jalan
2.1.1.
Pengertian Perkerasan Jalan
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi
segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas
permukaan tanah, di bawah permukaan tanah, dan / atau air, serta di atas
permukaan air,
kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Perkerasan
adalah suatu lapisan yang diletakkan di atas
tanah dasar (Subgrade) yang telah
dipadatkan.
Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak di
antara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan, yang berfungsi memberikan
pelayanan kepada sarana transportasi, dan selama masa pelayanannya diharapkan
tidak terjadi kerusakan yang berarti.Agar perkerasan jalan yang sesuai dengan
mutu yang diharapkan, maka pengetahuan tentang sifat, pengadaan dan pengolahan
dari bahan penyusun perkerasan jalan sangat diperlukan. (Silvia Sukirman, 2003)
Guna dapat memberikan rasa aman dan nyaman
kepada pemakai jalan, maka konstruksi perkerasan jalan haruslah memenuhi
syarat-syarat tertentu yang secara umum
dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Syarat
Berlalu Lintas
Dipandang
dari keamanan dan kenyamanan berlalu lintas, maka konstruksi perkerasan lentur
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Permukaan
yang rata, tidak bergelombang, tidak melendut dan tidak berlubang.
b. Permukaan
cukup kaku, sehingga tidak mudah berubah bentuk akibat beban yang bekerja di
atasnya.
c. Permukaan
cukup kesat, memberikan gesekan yang baik antara ban dan permukaan jalan
sehingga kendaraan tidak mudah selip.
d. Permukaan
tidak mengkilap, tidak silau jika terkena sinar matahari.
2. Syarat-Syarat
Kekuatan/Struktural
Dipandang
dari segi kemampuan memikul dan menyebarkan beban, maka konstruksi perkerasan
jalan lentur harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Ketebalan
yang cukup sehingga mampu menyebarkan beban atau muatan lalu lintas ke tanah
dasar.
b. Kedap
terhadap air, sehingga air tidak mudah meresap kelapisan di bawahnya.
c. Permukaan
mudah mengalirkan air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya dapat cepat
dialirkan.
d. Kekakuan
untuk memikul beban yang bekerja tanpa menimbulkan deformasi yang berarti.(sumber:www.Welkipedia.com/Search/perkerasan jalan)
2.1.2.
Jenis Konstruksi Perkerasan
Perkerasan
pada umumnya terdiri dari beberapa lapisan dengan mutu yang berbeda-beda dan
secara umum konstruksi perkerasan jalan terdiri atas:
a. Tanah
Dasar (Subgrade)
Tanah dasar (Subgrade) berfungsi sebagai tempat
perletakan lapis perkerasan yang mempunyai peranan penting bagi konstruksi
perkerasan jalan, oleh sebab itu tanah dasar harus dibentuk dan dipadatkan
dengan baik. Tanah dasar ini merupakan
badan jalan yang disiapkan sedemikian rupa sehingga cukup padat, kedap air,
stabil, dan tidak retak pada saat musim panas dan tidak licin pada saat musim
hujan. Adapun persoalan yang menyangkut tanah dasar yaitu:
Ø Perubahan bentuk tetap (deformasi
permanen) dari jenis tanah tertentu akibat beban lau lintas.
Ø Sifat mengembang dan menyusut
dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.
Ø Daya dukung tanah yang tidak
merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dengan jenis tanah yang
sangat berbeda dengan sifat dan kedudukan geologinya atau akibat pelaksanaan.
Ø Tambahan pemadatan akibat
pembebanan lalu lintas dan penurunan yang diakibatkannya, misalnya pada tanah
berbutir yang tidak dipadatkan dengan baik.
Dari sifat-sifat dan gradasi butirannya, tanah dasar dapat dibedakan
atas:
1.
Tanah dasar berbutir kasar (Cohesionless Subgrade).
2.
Tanah dasar berbutir halus (Cohesion Subgrade).
3.
Tanah dasar dengan sifat kembang-susut yang besar (High Swelling Subgrade).
Cara untuk mengklasifikasikan tanah menurut
sifat-sifatnya yaitu:
1.
Cara AASHTO
Berdasarkan
sistem ini, tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
A.
Kelompok A-1, A-2 dan A-3 adalah tanah berbutir yang
tidak lebih dari 35% bahan lolos saringan No.200.
B.
Kelompok A-4, A-5, A-6, dan A-7 adalah tanah berbutir halus yang lebih dari 35% bahan lolos saringan No.200.
C.
Kelompok A-8 adalah tanah gambut tidak diperlihatkan.
Tabel 2.1. Spesifikasi AASHTO untuk klasifikasi
tanah
(Sumber: dikutip dari bahan kuliah Tanah Dasar oleh Ir.
H. Abd. Rahim Nurdin, MT.)
Kelompok tanah A-7 dibagi lagi atas:
A-7-5apabilaIP<(LL-30)
A-7-6 apabilaIP>(LL-30)
2.
Cara USC (Unified Soil Classification)
Secara garis besar sistem ini membedakan tanah atas tiga
kelompok besar, yaitu :
A.
Tanah berbutir kasar,< 50% lolos saringan No. 200
Butir-butir tanah ini dapat dilihat secara visual.
B.
Tanah berbutir halus, > 50% lolos saringan No.
200 Butir-butir tanah ini tidak dapat dilihat secara visual.
C. Tanah organik, dikenal dari
warna, bau dan sisa tumbuh-tumbuhan yang terkandung di dalamnya.
Tanah berbutir kasar dibedakan lagi atas:
A. Kerikil : apabila lebih dari
setengah bahan tertahansaringan No.4.
B. Pasir : apabila lebih dari
setengah bahan lolos saringan No.4
b.
Lapis Pondasi
Lapis pondasi, yang biasanya
terdiri dari lapis pondasi atas dan lapis pondasi bawah. Lapisan ini merupakan pondasi dari struktur perkerasan. Distribusi beban dan kekuatan struktur ditentukan pada lapisan ini.
A.
Lapis pondasi atas
(Base Course) adalah bagian
perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan lapis pondasi bawah
(atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi bawah). Adapun
fungsi dari lapis pondasi atas yaitu:
1.
Bagian perkerasan
yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di
bawahnya.
2.
Lapisan peresapan
untuk lapisan pondasi bawah.
3.
Bantalan terhadap
lapisan permukaan.
B.
Lapis pondasi bawah
(Sub Base Course) merupakan lapis
perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar. Fungsi dari
lapis pondasi bawah adalah :
1.
Menyebarkan beban
roda ke tanah dasar.
2.
Lapis peresapan
agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
3.
Efisiensi
penggunaan material. Material pondasi bawah lebih murah dari pada lapisan di
atasnya.
4.
Lapisan
partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapisan pondasi atas.
c.
Lapis Permukaan
Lapis permukaan adalah lapisan yang terletak pada bagian
paling atas dari struktur perkerasan kontruksi jalan, yang merupakan lapisan yang berhubungan langsung dengan beban (roda
kendaraan). Lapis permukaan ini sudah termasuk lapis aus, tetapi tidak jarang
ada beberapa lapis permukaan yang ditambah lapisan aus khusus karena kontak
langsung dengan beban kendaraan maka lapisan ini akan mengalami tekanan, geser
dan bahkan torsi sekaligus sehingga lapisan ini selain harus kuat, juga harus
stabil dan memiliki daya tahan yang cukup baik. Lapisan permukaan
berfungsi sebagai:
1.
Lapisan perkerasan yang mempunyai stabilitas
tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan.
2.
Lapisan kedap air, agar air hujan yang jatuh
diatasnya tidak meresap kelapisan dibawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan
tersebut.
3.
Lapisan aus (Wearing Course), lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem
kendaraan sehingga mudah menjadi aus.
4.
Lapisan yang menyebarkan beban kelapisan
bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan lain
Berdasarkan
fungsinya lapis permukaan terbagi atas:
1.
Lapis
nonstructural, sebagai lapis aus dan kedap air.
2.
Lapis structural,
sebagai lapis yang menahan dan menyebarkan beban roda.
Sedangkan berdasarkan jenis bahan pengikatnya,
perkerasan jalan dapat dibedakan atas :
1.
Perkerasan kaku (Rigid Pavement) yaitu perkerasan yang menggunakan semen sebagai
bahan pengikat. Pelat beton dengan atau tanpa tulangan diletakkan di atas tanah
dasar dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah , beban lalu lintas sebagian
besar dipikul oleh pelat beton. Dalam konstruksi perkerasan
kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih
adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan. Perkerasan beton yang kaku dan memiliki
modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban ke bidang tanah
dasar yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur
perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan
lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis
pondasi dan lapis permukaan.
Gambar 2.1. Susunan Lapis Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
2.
Perkerasan lentur (Flexible Pavement) yaitu perkerasan yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Lapis-lapis perkerasan bersifat
memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.
Gambar 2.2. Susunan Lapis Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
3.
Perkerasan komposit
(Composite Pavement) merupakan gabungan
konstruksi perkerasan kaku (Rigid
Pavement) dan lapisan perkerasan lentur (Flexible Pavement) di
atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu
lintas. Untuk ini maka perlu ada persyaratan ketebalan perkerasan aspal agar
mempunyai kekakuan yang cukup serta dapat mencegah retak refleksi dari
perkerasan beton di bawahnya.Konstruksi ini umumnya mempunyai tingkat
kenyamanan yang lebih baik bagi pengendara dibandingkan dengan konstruksi
perkerasanbeton semen sebagai lapis permukaan tanpa aspal.
Gambar 2.3. Susunan Lapis Perkerasan Komposit
(Composite Pavement)
2.1.3.
Pembebanan Pada Perkerasan Jalan
Kendaraan pada posisi berhenti di atas struktur yang diperkeras
menimbulkan beban langsung pada arah vertikal (tegangan statis) yang
terkonsentrasi pada bidang kontak yang kecil antara roda dan perkerasan.Ketika
kendaraan bergerak, timbul tambahan tegangan dinamis pada arah horisontal
akibat akselerasi pergerakan kendaraan serta pada arah vertikal akibat
pergerakan kendaraan ke atas dan ke bawah karena perkerasan yang tidak
rata.Intensitas tegangan statis dan dinamis terbesar terjadi di permukaan
perkerasan dan terdistribusi dengan bentuk piramida dalam arah vertikal pada
seluruh ketebalan struktur perkerasan.Peningkatan distribusi tegangan tersebut
mengakibatkan tegangan semakin kecil sampai permukaan lapis tanah dasar.
Untuk
memperjelas hal tersebut maka ditampilkan pada Gambar 2.4 berikut ini.
Perkerasan Lentur Perkerasan kaku
Gambar 2.4.
Distribusi beban roda melalui lapisan perkerasan jalan
(Sumber : dikutip
dari bahan kuliah Rekayasa Tanah Dan Perkerasan Jalan Raya oleh Ir. H. Abd. Rahim Nurdin, MT.)
Mekanisme retak yang terjadi di
lapangan terjadi karena adanya gaya tarik yang ditandai dengan adanya retak
awal pada bagian bawah perkerasan yang mengalami deformasi kemudian retak ini
lama kelamaan akan menjalar kepermukaan perkerasan jalan yang dapat
mengakibatkan kerusakan dan ketidaknyamanan.
Banyak hal yang menyebabkan
rusaknya perkerasan jalan, salah satunya adalah karena beban tarik. Beban tarik
sering menyebabkan adanya retak, terutama diawali dengan adanya retak awal (crack initation) pada bagian bawah
lapisan perkerasan yang kemudian akan menjalar ke permukaan. Untuk mengetahui
karakteristik material perkerasan lentur dilapangan mulai dikembangkan dengan
analisa di laboratorium agar tercapai mix desain yang tepat.
Beban lalu lintas yang bekerja di
atas konstruksi perkerasan dapat dibedakan menjadi:
a.
Muatan kendaraan yang berupa gaya
vertikal.
b.
Gaya rem atau gaya inersia
percepatan pada kendaraan berupa gaya horizontal.
c. Pukulan roda kendaraan berupa getaran-getaran.
Oleh karena sifat penyebaran gaya
maka muatan yang diterima oleh masing–masing lapisan berbeda dan semakin ke
bawah semakin kecil. Lapisan permukaan harus mampu menerima seluruh jenis gaya
yang bekerja, lapis pondasi atas menerima gaya vertikal dan getaran, sedangkan
tanah dasar dianggap hanya menerima gaya vertikal saja.
2.2. Agregat
Agregat
atau batu atau granular adalah material berbutir yang keras dan kompak. Istilah
agregat mencakup antara lain batu bulat, batu pecah, abu batu dan pasir. Agregat
mempunyai peranan yang sangat penting dalam prasarana transportasi, khususnya
dalam hal ini pada perkerasan jalan. Daya
dukung perkerasan jalan ditentukan sebagian besar oleh karakteristik agregat
yang digunakan. Pemilihan agregat yang tepat dan memenuhi persyaratan akan
sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan atau pemeliharaan jalan.
Agregat
merupakan elemen perkerasan
jalan yang mempunyai kandungan 90-95 % acuan berat, dan 75-85% acuan volume dari komposisi perkerasan
sehingga otomatis menyumbang factor kekuatan utama dalam perkerasan jalan
dimana digunakan bahan pengikat aspal yang sangat dipengaruhi oleh mutu agregat.
Salah
satu faktor penentu kemampuan perkerasan jalan dalam memikul beban lalu lintas
dan daya tahan terhadap cuaca adalah sifat agregat.Sifat agregat menentukan
kualitasnya sebagai bahan material perkerasan jalan, sehingga diperlukan
pemeriksaan terhadap sifat-sifat fisik dari material.Dalam hal ini yang perlu
untuk dilakukan pemeriksaan adalah gradasi, kebersihan, kekerasan dan ketahanan
agregat, bentuk butir, tekstur permukaan, porositas, kemampuan untuk menyerap
air, berat jenis, dan daya pelekatan dengan aspal. (Sumber : Manual Pekerjaan Campuran Baraspal
Panas, Departemen Pekerjaan Umum,2008)
2.2.1.
Jenis-jenis
Agregat
Ditinjau
dari asal kejadiannya agregat/batuan dapat dibedakan atasbatuan beku (igneous
rock), batuan sediment dan batuan metamorf atau batuan malihan.
1. Batuan Beku
Batuan beku berasal dari magma yang mendingin dan
memadat. Pada dasarnya ada dua jenis batuan yakni batuan beku dalam dan batuan
beku luar. Batuan beku dalam terbentuk dari magma yang terjebak dalam patahan
kulit bumi yang kemudian mendingin dan membeku membentuk suatu struktur
kristal. Contoh dari batuan ini adalah Granit, diorit dan garbo. Sedangkan
batuan beku luar terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan bumi selama
aktivitas erupsi vulkanis dan aktivitas geologi lainnya
2. Batuan Sedimen
Ada dua istilah yang dipakai pada batuan sedimen yaitu
batuan silika dan karbonat. Batuan sedimen silika adalah batuan sedimen yang banyak mengandung silika.
Sedangkan batuan sedimen banyak mengandung kalsium karbonat atau disebut batuan
sedimentasi karbonat. Berdasarkan cara terbentuknya batuan sedimen terbagi tiga
yakni, batuan sedimen yang terbentuk secara mekanis, kimiawi dan secara
organis.
3. Batuan Metamorf
Batuan metamorf atau di kenal juga dengan nama batuan
malihan, berasal dari batuan sedimen atau batuan beku yang telah mengalami
perubahan kerena tekanan dan panas yang intensif di dalam bumi atau akibat
reaksi kimia yang kuat. Karena kompleksnya proses pembentukan formasi batuan
ini maka agak sulit untuk menentukan bentuk asli batuannya. (Sumber :Manual Pekerjaan Campuran Baraspal Panas Departemen
Pekerjaan Umum,2008)
Berdasarkan
proses pengolahannya, agregat untuk campuran beraspal dapat dibedakan atas dua
jenis yaitu:
1. Agregat
Alam (Natural aggregates)
Agregat alam adalah agregat yang digunakan dalam
bentuk alamiahnya dengan sedikit atau
tanpa pemprosesan sama sekali, agregat ini terbentuk dari proses erosi alamiah
atau proses pemisahan akibat angin, air, pergeseran es dan reaksi kimia. Aliran
gletser dapat menghasilkan agregat dalam bentuk bongkahan bulat dan batu
kerikil, sedangkan aliran air menghasilkan batuan yang bulat licin.Dua jenis
utama dari agregat alam yang di gunakan untuk konstruksi jalan adalah pasir dan
kerikil.
Pasir biasa didefinisikan sebagai agregat yang lebih kecil dari 6,35 mm tetapi
lebih besar dari 0,075 mm dan kerikil didefinisikan agregat yang berukuran
lebih besar 6,35 mm. Sedangkan partikel yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut
sebagai mineral pengisi (filler).
2. Agregat
yang diproses
Agregat
yang diproses adalah batuan yang telah dipecah dan disaring sebelum
digunakan.Pemecahan agregat dilakukan karena tiga alasan yaitu untuk merubah
tekstur permukaan partikel dari licin ke kasar, untuk merubah bentuk partikel
dari bulat ke angular dan untuk mengurangi serta meningkatkan distribusi dan
rentang ukuran partikel.Untuk batuan krakal yang besar, tujuan pemecahan batuan
krakal ini adalah untuk mendapatkan ukuran batu yang dapat dipakai, selain itu
juga untuk merubah bentuk dan teksturnya.Penyaringan yang di lakukan pada
agregat yang telah di pecahkan akan menghasilkan partikel agregat dengan
rentang gradasi tertentu.
3. Agregat
Buatan
Agregat ini didapatkan dari proses kimia atau fisika dari
beberapa material sehingga menghasilkan suatu material baru yang sifatnya
menyerupai agregat, salah satu contohnya adalah Slag. Batuan ini adalah
substansi nonmetalik yang didapat dari hasil sampingan produksi yang timbul ke
permukaan dari pencairan / peleburan biji besi selama proses peleburan.
Beberapa jenis dari agregat ini merupakan hasil sampingan dari proses industry
dan dari proses material yang disengaja diproses agar dapat digunakan sebagai
agregat atau sebagai mineral pengisi (filler). (Sumber : Manual Pekerjaan Campuran Baraspal Panas, Departemen
Pekerjaan Umum,2008)
Berdasarkan ukuran partikelnya, agregat dapat dibedakan atas :
1. Agregat
Kasar
2. Agregat
Halus
3. Abu
Batu/Filler
2.2.2. Agregat Kasar
Agregat kasar adalah agregat yang tertahan saringan No. 8 (2,36 mm). Agregat kasar yang digunakan dapat berupa batu pecah atau kerikil yang
berada dalam kondisi kering, bersih dari lempung dan kotoran- kotoran serta
bahan-bahan organik lainnya yang dapat mempengaruhi kekuatan dari agregat. Pada campuran AC-WC dan AC-BC kedudukan agregat kasar hanya
mengambang (Floating) dan ini dimaksudkan
agar agregat kasar sebagai bahan tambahan akan memberikan pengaruh pada
campuran yaitu menurunkan penggunaan kadar aspal, mengurangi ruang kosong (void) dalam campuran. Adapun persyaratan agregat kasar
dapat dilihat pada tabel 2.2. berikut :
Tabel
2.2. Ketentuan Agregat Kasar
|
Pengujian
|
Standar
|
Nilai
|
|
|
Kekekalan
bentuk agregat terhadap larutan natrium dan magnesium sulfat
|
SNI 3407:2008
|
Maks.12 %
|
|
|
Abrasi dengan mesin Los Angeles 1)
|
Campura AC bergradasi kasar
|
SNI 2417:2008
|
Maks. 30%
|
|
Semua jenis campuran aspal bergradasi
lainnya
|
Maks. 40%
|
||
|
Kelekatan agregat terhadap aspal
|
SNI 2439:2011
|
Min. 95 %
|
|
|
Angularitas (kedalaman dari permukaan <10 cm)
|
DoT’s
Pennsylvania TestMethod,
PTM No.621
|
95/90 2)
|
|
|
Angularitas (kedalaman dari permukaan ≥ 10 cm)
|
80/75 2)
|
||
|
Partikel Pipih dan Lonjong
|
ASTM D4791
Perbandingan 1 :5
|
Maks. 10 %
|
|
|
Material lolos Ayakan No.200
|
SNI 03-4142-1996
|
Maks. 1 %
|
|
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
2.2.3. Agregat Halus
Agregat halus adalah agregat yang lolos saringan No. 8 (2,36 mm).Agregat
halus terdiri dari bahan-bahan berbidang kasar bersudut tajam dan bersih dari
kotoran atau bahan-bahan yang tidak dikehendaki. Karakteristik agregat halus yang
menjadi tumpuan bagi kekuatan campuran aspal terletak pada jenis,bentuk, dan
tekstur permukaan dari agregat dan menjadi peranan penting dalam pengontrolan
daya tahan terhadap deformasi,tetapi penambahan daya tahan ini diikuti pula
dengan penurunan daya tahan campuran secara keseluruhan jika melebihi proporsi
yang diisyaratkan. Adapun
persyaratan agregat halus dapat dilihat pada tabel 2.3. berikut :
Tabel 2.3. Ketentuan Agregat Halus
|
Pengujian
|
Standar
|
Nilai
|
|
Nilai Setara Pasir
|
SNI 03-4428-1997
|
Min 60%
|
|
Kadar Lempung
|
SNI 3423 : 2008
|
Maks 1%
|
|
Angularitas (kedalaman dari permukaan <
10 cm)
|
SNI 03-6877-2002
|
Min. 45
|
|
Angularitas
(kedalaman dari permukaan ³ 10 cm)
|
Min. 40
|
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
2.2.4. Bahan Pengisi (Filler)
Bahan
pengisi dapat terdiri atas debu batu kapur, debu dolomite, semen Portland, abu
terbang, debu tanur tinggi pembuat semen atau bahan mineral tidak plastis lainnya. Bahan pengisi yang merupakan mikro agregat
ini harus lolos saringan No. 200 (0,075 mm). Bahan pengisi
dapat terjadi secara alamiah atau dapat juga dihasilkan dari proses pemecahan
batu atau dari proses batuan.
Fungsi bahan
pengisi adalah untuk meningkatkan kekentalan bahan bitumen dan untuk mengurangi
sifat rentan terhadap temperatur. Keuntungan lain dengan adanya bahan pengisi adalah karena banyak terserap
dalam bahan bitumen maka akan menaikkan volumenya.
Bahan pengisi (filler) berperan dalam campuran aspal dengan dua macam cara, yaitu pertama filler
sebagai modifikasi dari gradasi pasir yang menimbulkan kepadatan campuran
dengan lebih banyak titik kontak antara butiran partikel, hal ini akan
mengurangi jumlah aspal yang akan mengisi rongga-rongga yang tersisa di dalam
campuran. Sedangkan peran kedua adalah suatu cara yang baik untuk mempengaruhi
kinerja filler dengan mempertimbangkan proporsi yang menguntungkan dari
komposisi agregat halus, filler dan aspal didalam mortar, selanjutnya
sifat-sifat mortar ini tergantung pada sifat asli dari pasir, jumlah takaran
dalam campuran aspal serta viskositas pasta atau bahan pengikat yang
digunakan. Adapun
persyaratan filler dapat dilihat pada tabel 2.4. berikut:
Tabel
2.4. Persyaratan Bahan Pengisi
(filler)
|
Sifat-sifat
|
Metoda Pengujian
|
Persyaratan
|
|
Berat
butiran yang lolos ayakan 75 mikron
|
SNI.03-4142-1996
|
³ 75 %
|
(Sumber : Manual
Pekerjaan Campuran Baraspal Panas, Departemen Pekerjaan Umum,
2008)
2.2.5. Sifat-Sifat Fisik Agregat
Pada campuran beraspal, agregat memberikan konstribusi
terbesar terhadap berat dan volume campuran, sehingga sifat-sifat fisik agregat
merupakan salah satu factor penentu terhadap mutu serta kualitas campuran. Untuk itu sifat-sifat agregat harus diperiksa dan diuji antara lain
1. Ukuran Butir
Ukuran agregat dalam suatu campuran
beraspal terdistribusi dari yang berukuran besar sampai yang terkecil. Semakin besar ukuran maksimum agregat yang dipakai
semakin banyak variasi ukurannya dalam campuran tersebut. Ada dua istilah yang
biasa digunakan berkaitan dengan ukuran butir agregat yaitu :
a. Ukuran maksimum, yang di definisikan sebagai ukuran
saringan terkecil yang meloloskan 100% agregat.
b. Ukuran nominal maksimum, yang di definisikan sebagai
ukuran saringan terbesar yang masih menahan maksimum dari 10% agregat.
2. Gradasi Agregat
Gradasi agregat adalah susunan butir agregat sesuai
ukurannya. Ukuran butir agregat dapat diperoleh melalui pemeriksaan analisis
saringan. Satu set saringan umumnya teridiri dari saringan berukuran 4 inci,
3½inci, 3inci, 2½inci, 2inci, 1½inci, 1inci, ¾ inci, ½ inci, 3/8 inci, No.4,
No.8, No.16, No.30, No.50, No.100, No. 200. Ukuran saringan dalam ukuran
panjang menunjukkan ukuran bukaan, sedangkan nomor saringan menunjukkan banyaknya
bukaan dalam 1 inci persegi.
Seluruh
spesifikasi perkerasan mensyaratkan
bahwa partikel agregat harus berada dalam rentang ukuran tertentu dan
masing-masing ukuran partikel harus berada dalam proporsi tertentu. Distribusi dari variasi ukuran agregat ini
disebut gradasi agregat. Gradasi
agregat mempengaruhi besarnya rongga dalam campuran dan menentukan workabilitas
(sifat mudah dikerjakan) dan stabilitas campuran. Gradasi
agregat dinyatakan dalam persentase berat masing-masing contoh yang lolos pada
saringan tertentu. Persentase
ini dilakukan dengan menimbang agregat yang lolos atau tertahan pada
masing-masing saringan. Gradasi agregat dapat dibedakan atas :
1. Gradasi
Seragam (Uniform Graded) / Gradasi
Terbuka (Open Graded)
Adalah
gradasi agregat dengan ukuran yang hampir sama. Gradasi seragam disebut juga
gradasi terbuka (open graded) karena hanya mengandung sedikit agregat halus
sehingga terdapat banyak rongga/ruang kosong antar agregat. Campuran beraspal
yang dibuat dengan gradasi ini bersifat porus atau memiliki permeabilitas yang
tinggi, stabilitas rendah dan memiliki berat isi yang kecil.
2. Gradasi
Rapat (Dense Graded)
Adalah
gradasi agregat dimana terdapat butiran dari agregat kasar sampai halus,
sehingga sering juga disebut gradasi
menerus atau gradasi baik (well graded).
Campuran dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi, agak kedap air dan
memiliki berat isi yang besar.
3.
Gradasi Senjang (Gap Graded)
Adalah gradasi agregat
dimana ukuran agregat yang ada tidak lengkap atau ada fraksi agregat yang tidak
ada atau jumlahnya sedikit sekali, oleh sebab itu gradasi ini disebut gradasi
senjang (gap graded). Campuran agregat dengan gradasi ini memiliki
kualitas peralihan dari gradasi seragam dan gradasi rapat.
Semua lapisan perkerasan lentur membutuhkan agregat yang
terdistribusi dari besar sampai kecil. Semakin besar ukuran maksimum partikel
agregat yang digunakan semakin banyak variasi ukuran dari besar sampai kecil
yang dibutuhkan.
Gambar 2.5. Contoh tipikal
macam-macam gradasi agregat
(Sumber, dikutip dari
bahan kuliah Agregat oleh Ir. H. Abd.
Rahim Nurdin, MT.)
3.
Kebersihan
Agregat
Dalam
spesifikasi biasanya memasukkan syarat kebersihan agregat dengan memberikan
suatu batasan jenis dan jumlah material yang tidak diperlukan, seperti lumpur,
tanaman dan lain sebagainya, yang melekat pada agregat, karena akan memberikan
pengaruh yang jelek pada kinerja perkerasan seperti berkurangnya ikatan antara
aspal dengan agregat yang disebabkan karena banyaknya kandungan lempung pada
agregat tersebut.
4. Kekerasan
(Toughness)
Agregat
yang nantinya digunakan sebagai lapis permukaan haruslah lebih keras (lebih
tahan) dari agregat yang digunakan pada lapisan dibawahnya. Hal ini disebabkan
karena permukaan pekerasan akan menerima dan menahan tekanan dan benturan dari
beban lalu-lintas paing besar.
5. Bentuk
Butir Agregat
Agregat
memiliki bentuk butir dari bulat (rounded)
dan bersudut (angular). Bentuk butir
agregat dapat mempengaruhi workabilitas campuran perkerasan pada saat
penghamparan, yaitu dalam hal energi pemadatan yang dibutuhkan untuk memadatkan
campuran, dan untuk kekuatan struktur perkerasan selama umur pelayanannya. Bentuk partikel agregat yang bersudut memberikan ikatan
antara agregat (agregat interlocking) yang baik yang dapat menahan perpindahan
(displacement) agregat yang mungkin terjadi. Agregat yang bersudut tajam,
berbentuk kubikal dan agregat yang memiliki lebih dari satu bidang pecah akan
menghasilkan ikatan antar agregat yang paling baik.
Dalam
campuran beraspal, penggunaan agregat yang bersudut saja atau bulat saja tidak akan menghasilkan campuran beraspal yang
baik.Kombinasi penggunaan kedua pentuk partikel ini sangat dibutuhkan untuk
menjamin kekuatan pada struktur perkerasan dan workabilitas yang baik dari
campuran tersebut.
6. Tekstur
Permukaan Agregat
Permukaan
agregat yang kasar akan memberikan kekuatan pada campuran beraspal karena
kekasaran permukaan agregat dapat menahan agregat tersebut dari pergeseran atau
perpindahan. Kekasaran permukaan agregat jugaakan memberikan tahanan gesek yang
kuat pada roda kendaraan sehinga meningkatkan keamanan kendaraan terhadap slip.
Agregat
dengan permukaan yang kasar memiliki koefesien
gesek yang tinggi yang membuat agregat tersebut sulit untuk berpindah tempat
sehingga akan menurunkan workabilitasnya. Oleh sebab itu penggunaan agregat bertekstur halus dengan proporsi tertentu
kadang-kadang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan workabilitasnya. Dilain
pihak film aspal lebih mudah merekat pada permukaan yang kasar sehingga akan
menghasilkan ikatan yang baik antara aspal dan agregat.
7. Daya
Serap Agregat (Absorption)
Keporusan
agregat menentukan banyaknya zat cair yang dapat diserap agregat.Kemampuan
agregat untuk menyerap air dan aspal adalah suatu informasi yang penting yang
harus diketahui dalam pembuatan campuran beraspal. Jika daya serap agregat
sangat tinggi, agregat ini akan terus menyerap aspal baik pada saat maupun
setelah proses pencampuran agregat dengan aspal di unit pencampur aspal (AMP).
Hal iniakan menyebabkan aspal yang berada pada permukaan agregat yang berguna
untuk mengikat pertikel agregat menjadi lebih sedikit sehingga akan menghasilkan
film aspal yang tipis.
Oleh
karena itu, agar campuran yang dihasilkan tetap baik agregat yang porus
memerlukan aspal yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kurang
porus.Agregat dengan keporusan atau daya serap yang tinggi biasanya tidak
digunakan, tetapi untuk tujuan tertentu pemakaian agregat ini masih dapat
dibenarkan asalkan sifat lainnya dapat terpenuhi. Meskipun
demikian perbedaan berat jenis harus di koreksi mengingat semua perhitungan
didasarkan pada persentase berat bukan volume.Contoh material
seperti batu apung yang memiliki keporusan tinggi yang digunakan karena ringan
dan tahan terhadap abrasi.
8. Kelekatan
Terhadap Aspal
Kelekatan
agregat terhadap aspal adalah kecenderungan agregat untuk menerima, meyerap dan
menahan film aspal. Agregat
hidrophobik (tidak menyukai air) adalah agregat yang memiliki sifat kelekatan
terhadap aspal yang tinggi, contoh
dari agregat ini adalah batu gamping dan dolomit.Sebaliknya, agregat
hidrophilik (suka air) adalah agregat yang memiliki kelekatan terhadap aspal
yang rendah. Sehingga agregat jenis ini cenderung terpisah
dari film aspal bila terkena air. Kuarsit dan beberapa jenis granit adalah
contoh agregat hidrophilik.
Ada
beberapa metode uji untuk menentukan kelekatan agregat terhadap aspal dan
kecenderungannya untuk mengelupas (stripping). Salah satu diantaranya dengan merendam
agregat yang telah terselimuti aspal kedalam air, lalu diamati secara visual. Tes lainnya adalah dengan melakukan perendaman mekanik. Tes ini menggunakan 2
contoh campuran, satu direndam dalam air dan diberikan energi mekanik dengan
cara pengadukan dan satunya lagi tidak. Kemudian kedua contoh ini diuji
kekuatannya.Perbedaan kekuatan antara keduanya dapat dipakai sebagai indikator
untuk dapat mengetahui kepekaan agregat terhadap pengelupasan. (Sumber : dikutip dari manual pekerjaan campuran beraspal
panas, Departemen Pekerjaan Umum, 2008)
2.2.6. Gradasi
Agregat Gabungan
Gradasi
agregat gabungan untuk campuran aspal, ditunjukkan dalam persen terhadap berat
agregat dan bahan pengisi, harus memenuhi batas-batas yang diberikan dalam
Tabel 2.5. Rancangan dan Perbandingan Campuran untuk gradasi agregat gabungan
harus mempunyai jarak terhadap batas-batas yang diberikan dalam Tabel 2.5.
Tabel 2.5. Amplop Gradasi Agregat Gabungan Untuk
Campuran Aspal
|
Ukuran Ayakan (mm)
|
% Berat Yang Lolos terhadap Total
Agregat dalam Campuran
|
|||||||||||
|
Latasir (SS)
|
Lataston (HRS)
|
Laston (AC)
|
||||||||||
|
|
|
Gradasi Senjang3
|
Gradasi Semi
Senjang 2
|
Gradasi Halus
|
Gradasi Kasar1
|
|||||||
|
Kelas A
|
Kelas B
|
WC
|
Base
|
WC
|
Base
|
WC
|
BC
|
Base
|
WC
|
BC
|
Base
|
|
|
37,5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
100
|
|
|
100
|
|
25
|
|
|
|
|
|
|
|
100
|
90 - 100
|
|
100
|
90 - 100
|
|
19
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
90 - 100
|
73 - 90
|
100
|
90 - 100
|
73 - 90
|
|
12,5
|
|
|
90 - 100
|
90 - 100
|
87 - 100
|
90 - 100
|
90 - 100
|
74 - 90
|
61 - 79
|
90 - 100
|
71 - 90
|
55 - 76
|
|
9,5
|
90 - 100
|
|
75 - 85
|
65 - 90
|
55 - 88
|
55 - 70
|
72 -
90
|
64 – 82
|
47 - 67
|
72 - 90
|
58 - 80
|
45 - 66
|
|
4,75
|
|
|
|
|
|
|
54 -
69
|
47 - 64
|
39,5 - 50
|
43 - 63
|
37 - 56
|
28 - 39,5
|
|
2,36
|
|
75 - 100
|
50 – 723
|
35 – 553
|
50 - 62
|
32 - 44
|
39,1 - 53
|
34,6 - 49
|
30,8 - 37
|
28 - 39,1
|
23 - 34,6
|
19 - 26,8
|
|
1,18
|
|
|
|
|
|
|
31,6 - 40
|
28,3 - 38
|
24,1 - 28
|
19 - 25,6
|
15 - 22,3
|
12 - 18,1
|
|
0,600
|
|
|
35 - 60
|
15 - 35
|
20 - 45
|
15 - 35
|
23,1 - 30
|
20,7- 28
|
17,6 - 22
|
13 - 19,1
|
10 - 16,7
|
7 - 13,6
|
|
0,300
|
|
|
|
|
15 - 35
|
5 - 35
|
15,5 - 22
|
13,7- 20
|
11,4 - 16
|
9 - 15,5
|
7 - 13,7
|
5 - 11,4
|
|
0,150
|
|
|
|
|
|
|
9 - 15
|
4 - 13
|
4 - 10
|
6 - 13
|
5 – 11
|
4,5 - 9
|
|
0,075
|
10 - 15
|
8 - 13
|
6 - 10
|
2 - 9
|
6 - 10
|
4 - 8
|
4 - 10
|
4 - 8
|
3 -
6
|
4 - 10
|
4 - 8
|
3 - 7
|
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
2.3. Aspal
Menurut Silvia Sukirman (2007:26), Aspal didefinisikan sebagai material perekat
(cementitious) berwarna hitam atau coklat tua, dengan unsur utama
bitumen. Aspal dapat diperoleh di alam ataupun merupakan residu dari
pengilangan minyak bumi.
.Aspal adalah material yang
pada temperatur ruang berbentuk padat sampai agak padat dan bersifat
termoplastis. Jadi, aspal akan mencair jika dipanaskan sampai temperatur
tertentu dan kembali membeku jika temperatur turun. Bersama dengan agregat aspal
merupakan material pembentuk campuran perkerasan jalan yang berperan sebagai
pengikat atau lem antar partikel agregat dan agregat berperan sebagai tulangan.
Aspal merupakan komponen
perkerasan lentur. Banyaknya aspal dalam campuran perkerasan hanya berkisar
antara 4 – 10% berdasarkan berat campuran, atau 10 – 15% berdasarkan volume
campuran, tetapi merupakan komponen yang relatif mahal.
Adapun
fungsi aspal dalam konstruksi perkerasan jalan yaitu :
-
Sebagai Bahan Pengikat
Memberikan ikatan yang kuat antara aspal
dengan agregat dan antara aspal itu sendiri.
-
Bahan Pengisi
Mengisi rongga antara butir-butir agregat dan
pori-pori yang ada antara agregat itu sendiri.
(Sumber:dikutip dari bahan kuliah Aspal oleh Ir. H. Abd. Rahim Nurdin, MT.)
2.3.1.
Sifat-Sifat Kimiawi
Aspal
Aspal terdiri dari senyawa
hidrokarbon, nitrogen, dan logam lain, sesuai jenis minyak bumi dan proses
pengolahannya. Mutu kimiawi aspal ditentukan dari komponen pembentuk aspal.
Saat ini telah banyak metode yang digunakan untuk meneliti komponen-komponen pembentuk aspal.
Komponen fraksional pembentuk aspal dikelompokan berdasarkan karakteristik
reaksi yang sama.
Metode
Rostler menentukan komponen fraksionalaspal melalui daya larut aspal didalam
aspal belerang (Sulfuric Acid)
terdapat 5 komponen fraksional aspal berdasarkan daya reaksi kimiawinya di dalam
asam sulfuric acid, yaitu :
1. Asphaltenes (A)
2. Nitrogen bases (N)
3. Acidaffin I (A1)
4. Acidaffin II (A2)
5. Paraffins (P)
Secara
garis besar komposisi kimiawi aspal terdiri dari asphaltenes, resins dan oils.
Asphaltenes terutama terdiri dari
senyawa hidrokarbon, merupakan material berwarna hitam atau coklat tua yang tidak
larut dalam n-heptane. Asphaltenes
berwarna coklat sampai hitam yang mengandung karbon dan hidrogen. Asphaltenes menyebar di dalam larutan yang disebut maltenes
larut dalam heptane, merupakan
cairan kental yang terdiri dari resins dan
oils. Resins adalah cairan berwarna
kuning atau coklat tua yang memberikan sifat adhesi dari aspal, merupakan
bagian yang muda hilang atau berkurang selama masa pelayanan jalan, sedangkan oils yang berwarna lebih muda merupakan
media dari aspaltenes dan resin. Pengerasan aspal dapat terjadi
karena oksidasi, penguapan, dan perubahan kimiawi lainnya. Reaksi kimiawi dapat
mengubah resins menjadi asphaltenes, dan oils menjadi resins, yang secara keseluruhan akan
meningkatkan viskositas aspal.
Maltenes merupakan komponen yang mudah berubah sesuai perubahan temperatur dan umur
pelayanan. Durabilitas aspal merupakan fungsi dari ketahanan aspal terhadap
perubahan mutu kimiawi selama proses pencampuran dengan agregat, masa
pelayanan, dan pengerasan seiring waktu atau umur perkerasan.
2.3.2.
Sifat-Sifat Fisik Aspal
Sifat-sifat fisik
aspal yang sangat mempengaruhi perencanaan, produksi dan kinerja campuran
beraspal antara lain:
a.
Daya Tahan (Durabilitas)
Kinerja aspal
sangat dipengaruhi oleh sifat aspal tersebut setelah digunakan sebagai bahan
pengikat dalam campuran beraspal dan dihampar di lapangan. Hal ini disebabkan
karena sifat-sifat aspal akan berubah secara signifikan akibat oksidasi dan
pengelupasan yang terjadi baik pada saat pencampuran, pengangkutan dan
penghamparan campuran beraspal di lapangan. Perubahan sifat ini akan
menyebabkan aspal menjadi berdaktilitas rendah atau dengan kata lain mengalami
penuaan. Kemampuan aspal untuk menghambat lajupenuaan ini disebut durabilitas
aspal atau dengan kata lain kemampuan aspal mempertahankan sifat asalnya akibat
pengaruh cuaca dan penuaan selama masa pelayanan jalan.
Pengujian
durabilitas aspal bertujuan untuk mengetahui seberapa baik aspal untuk
mempertahankan sifat-sifat awalnya akibat proses penuaan. Walaupun banyak
faktor lainnya yang menentukan, aspal dengan durabilitas yang baik akan
menghasilkan campuran dengan kinerja baik pula.
b.
Sifat Adhesi dan Kohesi
Adhesi adalah
kemampuan aspal untuk mengikat agregat sehingga dihasilkan ikatan yang baik
antara agregat dengan aspal, dan kohesi adalah kemampuan aspal untuk tetap mempertahankan
agregat tetap pada tempatnya setelah terjadi pengikatan. Sifat adhesi dan
kohesi aspal sangat penting diketahui dalam pembuatan campuran beraspal karena
sifat ini sangat mempengaruhi kinerja dan durabilitas campuran.
c.
Kepekaan Terhadap
Temperatur
Aspal merupakan
bahan yang termoplastis, artinya akan menjadi keras dan kental jika temperatur
rendah dan menjadi cair (lunak) jika temperatur tinggi. Sifat ini disebut
kepekaan terhadap temperatur. Akibat perubahan temperatur ini viscositas aspal
akan berubah seiring dengan perubahan elastisitas aspal tersebut, oleh sebab itu aspal juga disebut bahan yang bersifat
viskoelastis. Kepekaan terhadap suhu perlu diketahui untuk dapat menentukan suhu yang baik pada saat
aspal akan dicampur dan dipadatkan.
d.
Kekerasan Aspal
Kekerasan aspal tergantung dari viscositasnya
(kekentalannya). Aspal pada proses pencampuran dipanaskan dan dicampur dengan agregat sehingga
agregat dilapisi aspal. Pada proses pelaksanaan terjadi oksidasi yang
mengakibatkan aspal menjadi getas (Viskositas
bertambah tinggi). Peristiwa tersebut berlangsung setelah masa pelaksanaan selesai. Pada masa pelayanan, aspal mengalami oksidasi dan polimerisasi yang besarnya dipengaruhi
ketebalan aspal menyelimuti
agregat. Semakin tipis lapisan aspal yang
menyelimuti agregat, semakin
tinggi tingkat kerapuhan yang terjadi. (Sumber
: dikutip dari manual pekerjaan campuran beraspal panas,
Departemen Pekerjaan Umum, 2008)
2.3.3.
Komposisi Aspal
Aspal merupakan unsur hydrocarbon
yang sangat kompleks, sangat sukar untuk memisahkan molekul-molekul yang
membentuk aspal tersebut. Disamping
itu setiap sumber dari minyak bumi menghasilkan komposisi molekul yang
berbeda-beda.
Proporsi dari asphaltenes, resins dan oils berbeda-beda
tergantung dari banyak faktor seperti kemungkinan beroksidasi, proses
pembuatannya dan ketebalan lapisan aspal dalam campuran.
Gambar 2.6.iIlustrasi komposisi aspal minyak
(Sumber : dikutip dari bahan kuliah Aspal oleh Ir. H. Abd. Rahim Nurdin, MT.)
2.3.4.
Jenis - Jenis Aspal
Berdasarkan cara diperolehnya,
aspal dapat dibedakan atas dua yaitu aspal alam dan aspal buatan.
a.
Aspal Alam
Aspal alam adalah aspal
yang secara alamiah terjadi di alam. Berdasarkan depositnya, aspal alamterbagi atas dua yaitu :
1.
Aspal Danau (Lake Asphalt)
Aspal ini secara alamiah terdapat di
danau trinided,
Venezuella dan Lawele. Aspal ini terdiri dari bitumen,mineraldan bahan organik
lainnya. Angka penetrasi dari aspal ini sangat rendah dan titik lembeknya
sangat tinggi.
Karena aspal ini sangat keras, dalam pemakaiannya aspal inidicampur dengan aspal keras
yang mempunyai angka penetrasi yang tinggi dengan perbandingan tertentu
sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi yang diinginkan.
2.
Aspal Batu (Rock
Asphalt)
Aspal batu
Kentucky dan Buton adalah aspal yang secara alamiah terdeposit diPulau Buton,
Indonesia dan didaerah Kentucky, USA. Aspal dari deposit ini terbentuk dalam
celah-celah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan
ini berkisar antara 12 - 35 % dari masa batu tersebut dan memiliki tingkat
penetrasi antara 0 - 40. Untuk pemakaiannya, deposit ini harus ditambang
terlebih dahulu, lalu aspalnya diekstraksi dan dicampur dengan minyak pelunak
atau aspal keras dengan angka penetrasi yang lebih tinggi agar didapat suatu
campuran aspal yang memiliki angka penetrasi sesuai dengan yang diinginkan.
Pada saat ini aspal batu telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga menghasilkan
aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran lebih kecil dari 1 mm
dan dalam bentuk mastik.
b. Aspal Buatan
Aspal yang masuk dalam kategori aspal buatan
adalah aspal minyak dan tar. Aspal Minyak merupakan hasil destilasi
minyak bumi sedangkan tar merupakan
hasil penyulingan batu bara dan kayu (tidak umum digunakan, peka terhadap
temperatur dan beracun).
2.3.5.
Aspal Modifikasi
Aspal
modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan
suatu bahan tambah.Polymer adalah jenis bahan tambah yang banyak digunakan saat
ini, sehingga aspal modifikasi sering disebut juga sebagai aspal
polymer.Berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer yang biasanya
digunakan yaitu polymer elastomer dan polymer plastomer.
1. Aspal
Polymer Elastomer
SBS (Styrene Butadine Styrene), SBR (Styrene
Butadine Rubber), SIS (Styrene Isoprene Styrene) dan karet adalah jenis-jenis
polymer elastomer yang biasanya digunakan sebagai bahan pencampur aspal keras.
Penambahan polymer jenis ini dimaksudkan untuk memperbaiki sifat-sifat rheologi
aspal, antara lain penetrasi, kekentalan,titik
lembek dan elastisitas aspal keras. Campuran beraspal yang dibuat dengan aspal
polymer elastomer akan memiliki tingkat elastisitas yang lebih tinggi dari
campuran beraspal yang dibuat dengan aspal keras. Persentase penambahan bahan
tambah (additive) pada pembuatan aspal polymer harus ditentukan berdasarkan
pengujian laboratorium karena penambahan sampai dengan batas tertentu memang
dapat memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran tetapi penambahan
yang berlebihan justru
akan memberikan pengaruh yang negative.
2. Aspal
Polymer Plastomer
Seperti halnya dengan aspal polymer elastomer, penambahan
bahan polymer plastomer pada aspal keras juga dimaksudkan untuk meningkatkan
sifat rheologi baik pada aspal keras dan sifat fisik campuran beraspal. Jenis
polymer plastomer yang telah banyak digunakan antara lain adalah EVA (Ethylene
Vinyl Acxetate), polypropylene dan polyethylene. Persentase penambahan polymer
ini kedalam aspal keras juga harus ditentukan berdasarkan pengujian
laboratorium karena sampai dengan batas tertentu, penambahan ini dapat
memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran tetapi penambahan yang
berlebihan justru akan memberikan pengaruh yang negative. (Sumber :dikutip dari manual pekerjaan campuran beraspal
panas, Departemen Pekerjaan Umum, 2008)
2.3.6.
Aspal Buton
Aspal batu buton atau biasa disebut Asbuton ialah aspal alam yang terdapat
di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Asbuton
merupakan batu yang mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan
begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi
dari rendah sampai tinggi.Asbuton ditemukan pada tahun 1924 dan mulai diproduksi sejak tahun 1926. Cadangan
Asbuton yang belum tergali cukup banyak, Mc. Namara Consultant menyatakan cadangan
asbuton diperkirakan 200 juta ton. Asbuton merupakan deposit terbesar di dunia.
Tabel 2.6. Deposit Asbuton di
Beberapa Daerah Singkapan di Pulau Buton
|
No.
|
Daerah Singkapan
Asbuton
|
Perkiraan
Deposit (ton)
|
Kadar
Bitumen
(%)
|
|
1.
|
Waisiu
|
100.000
|
± 35
|
|
2.
|
Kabungka
|
60.000.000
|
15 - 35
|
|
3.
|
Winto
|
3.200.000
|
25 - 35
|
|
4.
|
Wariti
|
600.000
|
± 30
|
|
5.
|
Lawele
|
100.000.000
|
15 - 30
|
Terdapat dua jenis unsur utama dalam Asbuton yaitu aspal (bitumen) dan
mineral. Pemanfaatan unsur ini dalam pekerjaan pengaspalan akan mempengaruhi
kinerja perkerasan aspal yang direncanakan. Jenis Asbuton yang telah diproduksi
secara pabrikasi dan manual dalam tahun – tahun belakangan ini adalah :
a.
Asbuton Butir
Jenis Asbuton
berdasarkan besar butir dan kadar aspal yang dikandungnya terdiri dari Konvensional,
Halus, Mikro, BRA, BGA dan LGA.
b.
Asbuton Full Ekstraksi
Asbuton jenis ini
merupakan bitumen murni hasil ekstraksi asbuton dengan menggunakan beberapa
cara, antara lain dengan bahan pelarut atau cara lain seperti menggunakan teknologi
air panas. Asbuton murni hasil ekstraksi dapat digunakan langsung sebagai
pengganti aspal keras atau sebagai bahan aditif yang akan memperbaiki
karakteristik aspal keras.
c.
Asbuton Pra-Campur
Asbuton pra-campur merupakan gabungan
antara asbuton butir hasil refine Asbuton
dengan kadar bitumen 60 % sampai 90 % dengan aspal minyak pen 60 dalam
komposisi tertentu. Asbuton jenis ini dapat dikatakan sebagai aspal minyak yang dimodifikasi
sehingga dalam campuran dapat langsung digunakan untuk dicampur dengan agregat.
(Sumber: dikutip
dari bahan kuliah Aspal Buton oleh Ir. H.
Abd. Rahim Nurdin, MT.)
2.3.7.
Aspal Minyak
Aspal
minyak adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak bumi. Setiap
minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis Asphalt
Base Crude Oil yang banyak mengandung aspal. Bahan baku minyak bumi yang
baik untuk pembuatan aspal adalah minyak bumi yang banyak mengandung asphaltene dan hanya sedikit mengandung
parafin. Untuk bahan aspal parafin kurang disukai karena mengakibatkan aspal
bersifat gelas, mudah terbakar dan memiliki daya lekat yang buruk dengan
agregat.Berdasarkan jenis bahan dasarnya, aspal minyak dibagi atas:
1. Asphaltic Base Crude Oil yaitu
aspal minyak dengan bahan dasar dominan asphaltic.
2. Parafin Base Crude Oil adalah
aspal minyak dengan bahan dasar dominan paraffin.
3. Mixed Base Crude Oil adalah
jenis aspal minyak dengan bahan dasar campuran asphaltic dan paraffin.
Berdasarkan bentuknya, aspal minyak
dibedakan atas:
1.
Aspal Keras (Asphalt Cement/AC)
Aspal
keras adalah aspal yang berbentuk padat atau
semi padat pada temperatur ruang dan menjadi cair jika dipanaskan. Aspal padat dikenal dengan nama semen aspal (Asphalt Cement). Aspal semen pada temperatur ruang (25°-30° C) berbentuk padat. Aspal
semen terdiri dari beberapa jenis tergantung dari proses pembuatannya dan jenis
minyak bumi asalnya. Pengelompokan aspal semen dapat dilakukan berdasarkan
nilai penetrasinya ataupun berdasarkan nilai viskositasnya.
Di Indonesia, aspal semen biasanya dibedakan berdasarkan nilai
penetrasinya yaitu :
a.
AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi
antara 40 - 50.
b.
AC pen 60/70, yaitu AC dengan penetrasi
antara 60 - 70.
c.
AC pen 80/100, yaitu AC dengan penetrasi
antara 80 - 100.
d.
AC pen 120/150, yaitu AC dengan
penetrasi antara 120 - 150.
e. AC pen 200/300, yaitu AC dengan penetrasi antara 200 - 300.
Spesifikasi dari masing-masing
kelompok aspal tersebut seperti pada tabel 2.7. berikut :
Tabel 2.7. Spesifikasi
AASHTO untuk berbagai nilai penetrasi aspal, AASHTO 20-70 (1990)
|
Jenis aspal (sesuai penetrasi)
|
40-50
|
60-70
|
85-100
|
120-150
|
200-300
|
|
Penetrasi (25oC,
100gr, 5 det)
|
40-50
|
60-70
|
85-100
|
120-150
|
200-300
|
|
Titik nyala,
cleaveland oC
|
≥ 235
|
≥ 235
|
≥ 235
|
≥ 220
|
≥ 180
|
|
Daktilitas (25oC,
5cm/men, cm)
|
≥ 100
|
≥ 100
|
≥ 100
|
≥ 100
|
≥ 100
|
|
Solubilitas dlm
CC14, %
|
≥ 99
|
≥ 99
|
≥ 99
|
≥ 99
|
≥ 99
|
|
TFOT, 3.2mm, 5jam,
163oC
|
|
||||
|
Kehilangan berat, %
|
≤ 0,8
|
≤ 0,8
|
≤ 1
|
≤ 1,3
|
≤ 1,5
|
|
Penetrasi setelah kehilangan berat
|
≥ 58
|
≥ 54
|
≥ 50
|
≥ 46
|
≥ 40
|
|
Daktalitas setelah kehilangan berat, (25oC, 5 cm/men, cm)
|
|
≥ 50
|
≥75
|
≥ 100
|
≥ 100
|
(Sumber : Beton Aspal Campuran
Panas,Sukirman,2003: 45)
Pada umumnya aspal semen dengan
penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas atau lalu lintas dengan volume
tinggi, sedangkan aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca
dingin atau lalu lintas dengan volume rendah
Di
Indonesia, aspal yang umum digunakan untuk perkerasan jalan adalah aspal pen 60/70. Persyaratan kualitas aspal
yang umum digunakan di Indonesia seperti pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8. Ketentuan-ketentuan untuk Aspal Keras
|
No
|
Jenis Pengujian
|
Metoda Pengujian
|
Tipe I
Aspal
Pen. 60-70
|
Tipe II Aspal yang Dimodifikasi
|
||
|
A (1)
|
B
|
C
|
||||
|
Asbuton yg diproses
|
Elastomer Alam
(Latex)
|
Elastomer Sintetis
|
||||
|
1.
|
Penetrasi
pada 25°C (dmm)
|
SNI
06-2456-1991
|
60-70
|
40-55
|
50-70
|
Min.40
|
|
2.
|
Viskositas
135°C
(cSt)
|
SNI
06-6441-2000
|
300
|
385
– 2000
|
< 2000(5)
|
< 3000(5)
|
|
3.
|
Titik
Lembek (°C)
|
SNI
06-2434-1991
|
>48
|
-
|
-
|
>54
|
|
4.
|
Indeks
Penetrasi 4)
|
-
|
> -1,0
|
≥
- 0,5
|
> 0.0
|
> 0,4
|
|
5.
|
Daktilitas
pada 25°C, (cm)
|
SNI-06-2432-1991
|
>100
|
> 100
|
> 100
|
> 100
|
|
6.
|
Titik
Nyala (°C)
|
SNI-06-2433-1991
|
>232
|
>232
|
>232
|
>232
|
|
7.
|
Kelarutan
dlm Toluene (%)
|
ASTM
D5546
|
>99
|
> 90(1)
|
>99
|
>99
|
|
8.
|
Berat
Jenis
|
SNI-06-2441-1991
|
>1,0
|
>1,0
|
>1,0
|
>1,0
|
|
9.
|
Stabilitas
Penyimpanan (°C)
|
ASTM
D 5976 part 6.1
|
-
|
<2,2
|
<2,2
|
<2,2
|
|
|
Pengujian Residu hasil TFOT atau RTFOT
:
|
|||||
|
10.
|
Berat
yang Hilang (%)
|
SNI
06-2441-1991
|
< 0.8
|
< 0.8
|
< 0.8
|
< 0.8
|
|
11.
|
Penetrasi
pada 25°C
(%)
|
SNI
06-2456-1991
|
> 54
|
> 54
|
> 54
|
≥54
|
|
12.
|
Indeks
Penetrasi 4)
|
-
|
> -1,0
|
> 0,0
|
> 0,0
|
> 0,4
|
|
13.
|
Keelastisan
setelah Pengembalian (%)
|
AASHTO
T 301-98
|
-
|
-
|
> 45
|
> 60
|
|
14.
|
Daktilitas
pada 25°C
(cm)
|
SNI
062432-1991
|
> 100
|
> 50
|
> 50
|
-
|
|
15.
|
Partikel
yang lebih halus dari 150 micron (mm) (%)
|
|
|
Min.
95(1)
|
-
|
-
|
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
Pembagian
semen aspal berdasarkan nilai viskositasnya tak umum digunakan di Indonesia. Spesifikasi aspal sesuai spesifikasi baru
campuran beraspal panas yang diterbitkan oleh Depkimwarsil menetapkan aspal
yang digunakan untuk beton aspal campuran panas adalah semen aspal pen.60/70,
sesuai Spesifikasi AASHTO M 20-70 (1990).
Metode
yang umum digunakan pada pemeriksaan aspal dapat dilihat pada tabel 2.9. dibawah
ini
:
Tabel 2.9. Metode Pemeriksaan Aspal
|
No.
|
Jenis Pengujian
|
Metode
|
Syarat
|
|
1.
|
Penetrasi, 25°C; 100 gr; 5 dtk; 0,1 mm
|
SNI-06-2456-1991
|
60 – 79
|
|
2.
|
Titik Lembek, °C
|
SNI-06-2434-1991
|
48 – 58
|
|
3.
|
Titik Nyala, °C
|
SNI-06-2433-1991
|
Min.200
|
|
4.
|
Daktilitas 25°C,5 cm per menit
|
SNI-06-2432-1991
|
Min. 100
|
|
5.
|
Berat Jenis
|
SNI-06-2441-1991
|
Min. 1.0
|
|
6.
|
Kelarutan Dalam Trichloroethele, %
|
RSNI M-04-2004
|
Min. 99
|
|
7.
|
Kehilangan Berat , %
|
SNI-06-2440-1991
|
Max. 0.8
|
|
8.
|
Penetrasi Setelah Kehilangan Berat
|
SNI-06-2456-1991
|
Min. 54
|
|
9.
|
Daktilitas Setelah Kehilangan Berat
|
SNI-06-2432-1991
|
Min. 50
|
(Sumber:dikutip dari manual pekerjaan
campuran beraspal panas edisi 2008)
2.
Aspal Cair (Cut Back Asphalt)
Aspal cair (Cut Back
Asphalt) adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi, sehingga berbentuk
cair pada suhu ruang. Aspal cair dihasilkan dari proses destilasi, dimana dalam
proses ini fraksi minyak ringan yang terkandung dalam minyak mentah tidak
seluruhnya dikeluarkan. Kecepatan menguap dari minyak yang digunakan sebagai
pelarut atau minyak yang sengaja ditinggalkan dalam residu pada proses
destilasi akan menentukan jenis aspal cair yang dihasilkan.Dalam penggunaanya,
pemanasan mungkin diperlukan untuk menurunkan tingkat kekentalannya.
Berdasarkan bahan pencair
dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dapat dibedakan atas:
a. RC
(Rapid Curing Cut Back)
Merupakan
aspal keras yang dilarutkan dengan bensin atau premium.
RC
merupakan Cut Back aspal yang paling cepat menguap. RC aspal digunakan sebagai
Tack Coat dan Prime Coat.
b. MC
(Medium Curing Cut Back)
Merupakan aspal keras yang
dilarutkan dengan kerozin (minyak tanah).MC merupakan Cut Back aspal yang
memiliki penguapan sedang.
c. SC
(Slow Curing Cut Back)
Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan
bahan pencair yang lebih kental seperti solar dan merupakan Cut Back Aspal yang
paling lama menguap. SC digunakan sebagai Prime Coat dan Dust Laying.
3.
Aspal Emulsi (Emulsion Asphalt)
Aspal emulsi di hasilkan dari proses
pengemulsian aspal keras. Pada proses ini partikel-partikel aspal keras di
pisahkan dan di dispresikan kedalam air yang mengandung emulsifer (emulgator). Partikel aspal yang
terdispresi berukuran sangat kecil bahkan sebagian besar berukuran koloid. Jenis emulsifer yang digunakan sangat
mempengaruhi jenis dan kecepatan pengikatan aspal emulsi yang
dihasilkan.
Dalam
aspal emulsi, butir-butir aspal larut dalam air. Untuk menghindari butiran
aspal saling menarik membentuk butir-butir yang lebih besar, maka butiran
tersebut diberi muatan listrik.
Berdasarkan
muatan listrik zat pengemulsi yang
digunakan, aspal emulsi yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi :
a. Kationik
atau disebut juga aspal emulsi asam
merupakan aspal emulsi bermuatan arus listrik positif.
b. Anionik
atau disebut juga aspal emulsi alkali
merupakan aspal emulsi bermuatan listrik negatif.
c. Non-ionik
merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami
ionisasi atau tidak mengantarkan listrik (netral).
Aspal emulsi yang umum digunakan sebagai bahan
perkerasan jalan adalah aspal emulsi anionik dan
kationik.
Berdasarkan kecepatan
pengerasannya, aspal emulsi
dapat dibedakan atas :
a. Rapid
Setting (RS) merupakan aspal yang
mengandung sedikit bahan pengemulsi sehingga pengikatan yang terjadi
cepat,digunakan untuk Tack Coat.
b. Medium
Setting (MS), digunakan untuk Seal Coat.
c. Slow Setting (SS), jenis aspal emulsi
yang paling lambat menguap, digunakan sebagai prime coat. (Sumber : dikutip dari bahan
kuliah Aspal 2 oleh Ir. H. Abd. Rahim
Nurdin, MT, &
www.sipilku.wordpress.com.site)
2.3.8.
Viscositas
Aspal
Aspal
merupakan bahan yang bersifat
visco-elastic, dengan demikian deformasi yang terjadi sangat tergantung pada suhu
dan lamanya pembebanan. Hal lain dari sifat aspal ini yaitu thermoplastic,
menyebabkan aspal menjadi lembek bila kena panas dan akan menjadi lebih keras
bila dalam suhu yang lebih dingin.
Viskositas
aspal dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, lama pembebanan, dan
waktu/effect of time.
a. Suhu
Jika suhu naik, maka kekentalan aspal akan
menurun
b.
Lama pembebanan
Hal ini jika dikaitkan dengan lalulintas maka
pembebanan yang lama akan terjadi pada lalulintas dengan kecepatan rendah.
Semakin lamanya pembebanan, maka aspal yang semula bersifat elastic akan
menjadi viscous.
c.
Waktu/effect of time
Hal ini berkaitan
dengan sifat tahan lama aspal sebagai bahan perkerasan jalan. Apabila aspal
dibiarkan dalam keadaan yang tidak/jarang mendapatkan beban, maka akan
menyebabkan kekentalan aspal menjadi naik.
2.3.9.
Hubungan
Antara Temperatur dan Volume Aspal
Aspal
adalah suatu material yang bersifat viskoelastis yang mengembang bila
dipanaskan dan menyusut bila didinginkan. Perubahan
volume aspal akibat perubahan temperatur ini kadangkala dapat menyebabkan
kesalahan dalam menghitung atau menentukan volume aspal, baik pada saat
pengiriman, penyimpanan, maupun pada saat pembayaran. Volume aspal haruslah
ditentukan pada temperature 15° C. Untuk itu bila 20.000 liter aspal dikirim
pada temperatur 100° C, maka volume sebenarnya harus ditentukan lagi dengan
mengacu pada temperatur 15° C.
Perhitungan
perubahan volume ini cukup sederhana, yaitu hanya memerlukan dua buah informasi
yaitu temperature dan berat jenis aspal (specific gravity). Data temperature dan berat jenis aspal
diperlukan untuk menentukan factor koreksi yang tepat.Factor koreksi tersebut
diperlihatkan pada SNI 06-6400-2000 (Tata Cara Penentuan Koreksi Volume Aspal
Terhadap Volume pada Temperatur Standar).Walaupun tabel tersebut tidak begitu
akurat, tetapi telah digunakan selama lebih dari 3 dekade.Tabel tersebut hanya
dapat digunakan untuk mengkoreksi volume aspal sampai dengan temperature 160°C.
Bila temperature aspal telah diketahui, factor koreksi untuk menghitung volume
aspal pada temperature 15°C dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
V =
Vt (Fk)
Dimana:
V = Volume aspal pada temperature 15°C
Vt = Volume aspal pada
temperature tertentu
Fk = Factor Koreksi
(Sumber
: dikutip dari manual pekerjaan campuran beraspal panas
Departemen Pekerjaan Umum, 2008)
2.4. Tinjauan
Umum Campuran Beton Aspal
Beton aspal
adalah jenis
perkerasan jalan
yang terdiri
dari campuran
agregat dan aspal, dengan
atau
tanpa
bahan
tambahan. Material-material
pembentuk beton
aspal dicampur di
instalasi pencampur pada suhu tertentu, kemudian diangkut ke lokasi,
dihamparkan dan dipadatkan. Suhu pencampuran
ditentukan berdasarkan jenis aspal yang akan digunakan. Jika semen aspal, maka pencampuran umumnya antara
145 - 155°C, sehingga
disebut
beton
aspal
campuran panas. Campuran ini dikenal
dengan hotmix. (Silvia Sukirman, 2003).
Berdasarkan fungsinya aspal beton campuran panas dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Sebagai lapis permukaan yang tahan terhadap cuaca, gaya geser dan tekanan
terhadap roda serta memberikan lapis kedap air yang dapat melindungi lapis di
bawahnya dari rembesan air.
2. Sebagai lapis pondasi atas.
3. Sebagai lapis pembentuk pondasi, jika dipergunakan pada pekerjaan
peningkatan atau pemeliharaan.
Sesuai dengan fungsinya maka lapis aspal beton mempunyai kandungan agregat
dan aspal yang berbeda. Sebagai lapis aus, maka kadar aspal yang dikandungnya
haruslah cukup sehingga dapat memberikan lapis yang kedap air. Agregat yang
dipergunakan lebih halus dibandingkan dengan aspal beton yang berfungsi sebagai
lapis pondasi.
Material utama penyusun suatu campuran aspal
sebenarnya hanya dua macam, yaitu agregat dan aspal. Namun dalam pemakaiannya
aspal dan agregat bisa menjadi bermacam-macam, tergantung kepada metode dan
kepentingan yang dituju pada penyusunan suatu perkerasan.
Ada beberapa jenis
beton aspal campuran panas, namun dalam penelitian ini jenis beton aspal
campuran panas yang ditinjau adalah AC-WC dan HRS-WC.
2.4.1.
Lapis
Aspal Beton (Asphalt Concrete, AC)
Lapis
Aspal Beton (Laston) yang selanjutnya disebut AC, terdiri dari tiga jenis
campuran, AC Lapis Aus (AC-Wearing
Course, AC-WC),
AC Lapis Antara (AC-Binder Course, AC-BC) dan AC Lapis Pondasi (AC-Base) dan
ukuran maksimum agregat masing-masing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm.
Menurut Silvia Sukirman
(1999:10) Lapis Aspal Beton adalah
suatu lapisan pada konstruksi jalan yang
terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi menerus,
dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu.
Lapis aspal beton dapat digunakan untuk
lapis permukaan, lapis antara dan lapis pondasi pada jalan dengan lalu lintas ringan sampai
lalu lintas berat. Perbedaan utama dari masing-masing peruntukan tersebut
adalah pada ukuran butir maksimum yang digunakan. Pemilihan ukuran butir
maksimum disesuaikan dengan rencana tebal penghamparan, tebal hamparan padat
minimum setebal 2 kali ukuran butir maksimum untuk menjamin tekstur permukaan
dan ikatan antar butir yang baik.Untuk lapis permukaan diperlukan tekstur yang
lebih rapat sehingga lebih kedap air dan memberi kekesatan yang cukup. (Sumber
: dikutip dari manual pekerjaan campuran beraspal panas Departemen Pekerjaan
Umum, 2008)
Lapis aspal beton sebagai lapis aus (Wearing Course) merupakan bagian dari
lapis permukaan yang terletak di atas lapis antara (Binder Course) memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Mengamankan perkerasan
dari pengaruh air.
b. Menyediakan permukaan
yang halus.
c. Menyediakan permukaan
yang kesat.
Sedangkan lapis aspal beton sebagai lapis antara (Binder Course) merupakan bagian dari lapis permukaan yang terletak
diantara lapis pondasi atas (Base Course)
dengan lapis aus (Wearing Course)
memiliki fungsi fungsi sebagai berikut :
a. Mengurangi tegangan.
b. Menahan beban paling
tinggi akibat beban lalu lintas sehingga harus mempunyai kekuatan yang cukup.
Spesifikasi sifat-sifat campuran lapis aspal beton dapat dilihat pada
tabel 2.10.
Tabel 2.10.
Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston (AC)
|
Sifat-sifat Campuran
|
Laston
|
||||||||
|
Lapis
Aus
|
Lapis
Antara
|
Pondasi
|
|||||||
|
Halus
|
Kasar
|
Halus
|
Kasar
|
Halus
|
Kasar
|
||||
|
Kadar aspal
efektif (%)
|
|
5,1
|
4.3
|
4,3
|
4,0
|
4,0
|
3,5
|
||
|
Penyerapan
aspal (%)
|
Maks.
|
1,2
|
|||||||
|
Jumlah
tumbukan per bidang
|
|
75
|
112 (1)
|
||||||
|
Rongga dalam
campuran (%) (2)
|
Min.
|
3,0
|
|||||||
|
Maks.
|
5,0
|
||||||||
|
Rongga
dalam Agregat (VMA) (%)
|
Min.
|
15
|
14
|
13
|
|||||
|
Rongga
Terisi Aspal (%)
|
Min.
|
65
|
63
|
60
|
|||||
|
Stabilitas
Marshall (kg)
|
Min.
|
800
|
1800 (1)
|
||||||
|
Maks.
|
-
|
-
|
|||||||
|
Pelelehan
(mm)
|
Min.
|
3
|
4,5 (1)
|
||||||
|
Marshall
Quotient (kg/mm)
|
Min.
|
250
|
300
|
||||||
|
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama
24 jam, 60 ºC (3)
|
Min.
|
90
|
|||||||
|
Rongga dalam
campuran (%) pada Kepadatan membal (refusal)(4)
|
Min.
|
2
|
|||||||
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
2.4.2.
Lapis Tipis
Aspal Beton (Hot Rolled Sheet, HRS)
Lapis
Tipis Aspal Beton (Lataston) yang selanjutnya disebut HRS, terdiri dari dua
jenis campuran, HRS Pondasi (HRS - Base) dan HRS Lapis Aus (HRS-Wearing Course,
HRS-WC) dan ukuran maksimum agregat masing-masing campuran adalah 19 mm.
Lapis tipis
aspal beton
merupakan lapis permukaan yang terdiri dari campuran-campuran antara
agregat bergradasi senjang, bahan
pengisi (filler) dan aspal keras
dengan perbandingan tertentu yang dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas.
Lapis tipis aspal beton
mempunyai fungsi sebagai lapis penutup untuk mencegah
masuknya air dari permukaan kedalam konstruksi perkerasan sehingga dapat
mempertahankan kekuatan konstruksinya sampai tingkat tertentu. Keistimewaan lataston yaitu mempunyai keawetan tinggi (tahan
terhadap pengaruh oksidasi) dan memiliki sifat elastis yang lebih tinggi
dibandingkan dengan campuran aspal lainnya. Lataston terdiri dari dua macam yaitu, Lataston Lapis
Permukaan (HRS-WC), dan Lataston Lapis
Pondasi (HRS-Base).
Spesifikasi sifat-sifat campuran lapis tipis aspal beton dapat dilihat pada
tabel 2.11.
Tabel
2.11. Ketentuan Sifat-sifat Campuran Lataston (HRS)
|
Sifat-sifat Campuran
|
Lataston
|
|||||
|
Lapis Aus
|
Lapis
Pondasi
|
|||||
|
Senjang
|
Semi
Senjang
|
Senjang
|
Semi
Senjang
|
|||
|
Kadar aspal
efektif (%)
|
Min
|
5,9
|
5,9
|
5,5
|
5,5
|
|
|
Penyerapan
aspal (%)
|
Maks.
|
1,7
|
||||
|
Jumlah
tumbukan per bidang
|
|
75
|
||||
|
Rongga dalam
campuran (%)(2)
|
Min.
|
4,0
|
||||
|
Maks.
|
6,0
|
|||||
|
Rongga dalam
Agregat (VMA) (%)
|
Min.
|
18
|
17
|
|||
|
Rongga
terisi aspal (%)
|
Min.
|
68
|
||||
|
Stabilitas
Marshall (kg)
|
Min.
|
800
|
||||
|
Pelelehan
(mm)
|
Min
|
3
|
||||
|
Marshall
Quotient (kg/mm)
|
Min.
|
250
|
||||
|
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama
24 jam, 60 ºC (3)
|
Min.
|
90
|
||||
|
Rongga dalam
campuran (%) pada kepadatan
membal (refusal) (4)
|
Min.
|
3
|
||||
(Sumber : Spesifikasi Umum Edisi 2010 (Revisi 2) Kementrian PU
Direktorat Jendral Bina Marga)
2.5.
Karakteristik
Beton Aspal
Karakteristik
campuran yang harus dimiliki oleh campuran beton aspal adalah:
1. Stabilitas
Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban
lalu lintas tanpa terjadi perubahan
bentuk tetap seperti gelombang, alur
dan bleeding. Kebutuhan akan stabilitas sebanding dengan fungsi jalan,dan beban
lalu lintas jalan yang melayani volume lalu lintas tinggi dan dominan dari
kendaraan berat, membutuhkan
perkerasan jalan dengan stabilitas tinggi sebaliknya perkerasan jalan yang
diperuntukkan untuk melayani lau lintas kendaraan ringan tentu tidak perlu
mempunyai nilai stabilitas yang tinggi.
Faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton aspal adalah:
a. Gesekan
internal yang dapat berasal dari kekerasan permukaan dari butir agregat, luas
bidang kontak antar butir, gradasi
agregat,kepadatan campuran dan tebal film aspal.Stabilitas terbentuk dari
kondisi gesekan internal yang terjadi antara butir-butir agregat,saling
mengunci dan mengisi butir–butir agregat dan masing-masing butir saling terikat
akibat gesekan antar butir dan adanya aspal. Kepadatan campuran menentukan pula
tekanan kontak, dan nilai stabilitas campuran.Pemilihan Agregat bergradasi baik
atau rapat akan memperkecil rongga antar agregat sehingga aspal yang ditambahkan
dalam campuran menjadi sedikit. Hal ini berakibat film aspal menjadi tipis.
Kadar Aspal yang optimal memberikan nilai stabilitas maksimum.
b. Kohesi
adalah gaya ikat aspal yang berasl dari daya lekatnya atau kemampuan aspal
untuk melekat, sehingga mampu memelihara tegangan kontak antara butir
agregat.Daya kohesi terutama ditentukan oleh penetrasi aspal,perubahan
viskositas akibat temperatur, tingkat pembebanan, komposisi
kimiawi aspal, efek dari waktu dan umur
aspal. Sifat dari rheoligi aspal menentukan kepekaan aspal untuk mengeras dan
menjadi rapuh yang akan mengurangi daya kohesinya.
2. Keawetan
atau Durabilitas
Keawetan atau durabilitas adalah kemampuan beton aspal
menerima beban lalu lintas seperti berat kendaraan
dan gesekan atas roda kendaraan dan permukaan jalan serta menahan keausan
akibat perubahan cuaca dan iklim seperti udara, air atau
perubahan temperatur. Durabilitas
beton aspal dipengaruhi oleh tebalnya
film atau selimut aspal, banyaknya
pori dalam campuran, kepadatan,
dan kedap airnya campuran. Selimut
aspal yang tebal akan membungkus agregat secara baik,beton aspal akan lebih
kedap air,sehingga kemampuannya menahan keausan semakin baik. Tetapi semakin tebal selimut aspal maka
semakin mudah terjadi bleeding yang mengakibatkan jalan semakin licin. Besarnya pori
yang tersisa dalam campuran setelah pemadatan, mengakibatkan durabilitas beton aspal
menurun. Semakin besar pori yang tersisa semakin tidak kedap air dan semakin
banyak udara di dalam beton aspal yang menyebabkan semakin mudahnya selimut
aspal beroksidasi dengan udara dan menjadi getas dan durabilitasnya menurun.
3. Kelenturan
dan Fleksibilitas
Kelenturan
dan Fleksibilitas adalah kemampuan beton aspal untuk menyesuaikan diri akibat
penurunan (konsolidasi/settlement) atau mampu menahan lendutan akibat beban
lalu lintas dan pergerakan dari pondasi atau tanah dasar,tanpa terjadi
retak.Penurunan akibat berat sendiri tanah timbunanyang dibuat diatas tanah
asli.Fleksibilitas dapat ditingkatkan dengan mempergunakan agregat bergradasi
terbuka dengan kadar aspal yang tinggi.
4. Ketahanan
Terhadap Kelelehan (Fatique
Resistance)
Ketahanan
terhadap kelelehan (fatiqueresistance)
merupakan kemampuan beton aspal menerima lendutan berulang akibat beban
lalulintas,tanpa terjadinya kelelehan berupa alur dan retak selama umur rencana.Hal
ini dapat tercapai jika menggunakan
kadar aspal yang tinggi.
5. Kekesatan/Tahanan
Geser (Skid Resistance)
Kekesatan/tahanan
geser (skid resistance) adalah kemampuan permukaan
beton aspal terutama pada kondisi basah, memberikan
gaya gesek pada roda kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir atau
slip.Faktor-faktor untuk mendapatkan kekesatan jalan sama dengan untuk
mendapatkan stabilitas yang tinggi,yaitu kekasaran permukaan dari butir-butir
agregat, kepadatan campuran dan tebal film aspal.Ukuran
maksimum butir agregat ikut menentukan
kekesatan permukaan.Dalam hal ini agregat yang digunakan tidak saja harus
mempunyai permukaan kasar tapi juga mempunyai daya tahan untuk permukaannya
agar tidak menjadi licin akibat repetisi kendaraan.
6. Kedap
Air (Impermeabilitas)
Kedap
air (impermeabilitas) adalah kemampuan beton
aspal untuk tidak dimasuki air ataupun udara kedalam lapisan beton aspal. Air dan udara dapat mengakibatkan percepatan
proses penuaan aspal,dan pengelupasan film/selimut dari permukaan agregat. Jumlah pori yang tersisa setelah beton aspal
dipadatkan dapat menjadi indikator kekedapan air campuran.Tingkat permeabilitas
beton aspal berbanding terbalik dengan tingkat durabilitasnya.
7. Mudah
Dilaksanakan (Workability)
Mudah
dilaksanakan (workability) adalah kemampuan campuran beton aspal untuk mudah
dihamparkan dan dipadatkan.Tingkat kemudahan dalam pelaksanaan menentukan
tingkat efisiensi pekerjaan.Faktor yang mempengaruhi tingkat kemudahan dalam
proses penghamparan dan pemadatan adalah viskositas aspal, kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur
dan gradasi serta kondisi agregat. Revisi atau koreksi terhadap rancangan
campuran dapat dilakukan jika ditemukan kesukaran dalam pelaksanaan.(Sumber: Pedoman
Perencanaan Campuran Beraspal, Departemen Pekerjaan Umum, 2010)
2.5.1.
Sifat-Sifat
Campuran Beton Aspal
Campuran
Beton aspal memiliki sifat sebagai berikut:
a. Tahan
terhadap keausan akibat beban lalu lintas
b. Kedap
air
c. Mempunyai
nilai structural
d. Mempunyai
stabilitas yang tinggi.
e. Peka
terhadap penyimpangan perencanaan dan pelaksanaan.
2.5.2.
Fungsi
Campuran Beton Aspal
Campuran
beton Aspal mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Sebagai
pendukung lalu lintas
b. Sebagai
lapis aus
c. Sebagai
pelindung konstruksi dibawahnya akibat pengaruh air dan cuaca
d. Menyediakan
permukaan jalan yang rata dan tidak licin.
2.5.3.
Perencanaan
Campuran
Lapisan
aspal yang baik haruslah memenuhi 4 syarat yaitu stabilitas, durabilitas,
fleksibilitas dan tahan geser. Jika memakai gradasi rapat akan menghasikan
gradasi yang baik, berarti memberikan stabilitas yang baik tetapi mempunyai
rongga pori yang kecil sehingga memberikan kelenturan fleksibilitas yang kurang
baik dan akibat tambahan pemadatan dari beban lalu lintas yang berulang serta
aspal yang mencair akibat pengaruh cuaca akan memberikan tahanan geser yang
kecil.Sebaliknya jika menggunakan gradasi terbuka akan diperoleh kelenturan yang
baik tetapi stabilitas yang kecil. Kadar aspal yang terlalu sedikit akan mengakibatkan
lapisan pengikat antarbutir kurang, terlebih jika kadar rongga yang dapat
diserapi aspal lebih besar. Hal ini akan mengakibatkan lapisan pengikat aspal
cepat lepas dan durabilitas kurang.Kadar aspal yang tinggi mengakibatkan
durabilitas dan kelenturan yang baik tetapi dapat terjadi bleeding sehingga
stabilitas dan tahanan geser berkurang.
Dari
penjelasan diatas, dapat
disimpulkan bahwa haruslah ditentukan campuran agregat-agregat dan aspal
seoptimal mungkin. Dengan kata lain haruslah direncanakan campuran yang
meliputi gradasi agregat (mutu agregat) dan kadar aspal sehingga dihasilkan
lapisan perkerasan yang dapat memenuhi keempat syarat yang disebutkan di atas,
sehingga akan diperoleh:
1. Kadar
aspal yang cukup memberikan kelenturan.
2. Stabilitas
cukup memberikan kemampuan memikul beban sehingga tidak terjadi deformasi yang
merusak.
3. Kadar
rongga memberikan kesempatan untuk pemadatan tambahan akibat beban berulang.
4. Dapat
memberikan kemudahan kerja sehingga tidak terjadi segresi.
5. Dapat
menghasilkan campuran dan menghasilkan lapisan perkerasan yang sesuai dengan persyaratandalam
pemilihan lapisan perkerasan pada tahap perencanaan.
2.6.
Pengujian
Campuran Dengan Marshall Test
Pengujian
campuran dengan metode Marshall dilaksanakan sesuai dengan yang ditetapkan dari
AASHTO terdapat 245-76 dimana
prosedur tes ini telah didasarkan oleh American Society for Testing and Material
(ASTM) dengan 1559-62.
Metode
Marshall Test ini mempunyai keuntungan sebagai berikut :
Ø Peralatan
yang digunakan mudah dibawa.
Ø Alat
marshall yang sederhana dan memberikan hasil yang baik.
Ø Dari
percobaan langsung dan alat marshall tersebut dapat diketahui ketahanan (stability) terhadap flow dari aspal.
Dari
hasil pemeriksaan Marshall diperoleh data
a. Kadar
aspal,dinyatakan dalam bilangan decimal satu angka di belakang koma.
b. Stabilitas dinyatakan dalam bilangan bulat. Stabilitas menunjukkan kekuatan, ketahanan terhadap terjadinya alur (rutting).
c. Kelelahan
plastis (Flow) dinyatakandalam
mm atau 0.01 inch. Flow
dapat merupakan indikator
terhadap lentur.
Dari hasil pemeriksaan Volumetrik diperoleh
data
a. Berat volume dinyatakan kg/m.
b. VIM merupakan persen rongga dalam
campuran,dinyatakan dalam bilangan decimal satu
angka dibelakang koma. VIM merupakan
indicator dari durabilitas.
c. VMA merupakan persen rongga terhadap
agregat, dinyatakan
dalam bilangan bulat. VMA
bersama dengan VIM merupakan indicator dari durabilitas.
d. Penyerapan
aspal,persen tehadap berat campuran, sehingga
diperoleh gambar berupa kadar aspal efektif.
e. Tebal
lapisan aspal (film Aspal) dinyatakan
dalam mm.Film aspal merupakan petunjuk tentang sifat durabilitas campuran.
f. Kadar
aspal efektif dinyatakan dalam bilangan
decimal satu angka dibelakang koma.
g. Hasil
bilangan Marshall (Marshall Quotient) merupakan hasil bagi stabilitas dan flow.Dinyatakan dalam Kn/m merupakan
indicator kelenturan potensial terhadap kerekatan.
informatif sekali... terima kasih, mau tanya kalo untuk abu batu, dalam pencampuran aspal jenis abu batu nya pa ? dan biasanya dimana kita bisa dpatkan abu batu tersbut ?
BalasHapusinformatif sekali... terima kasih, mau tanya kalo untuk abu batu, dalam pencampuran aspal jenis abu batu nya pa ? dan biasanya dimana kita bisa dpatkan abu batu tersbut ?
BalasHapusNhững dấu hiệu bệnh yếu sinh lý ở nam giới và nữ giớiYếu sinh lý – một căn bệnh phá hoại hạnh phúc gia đình của bao cặp vợ chồng và nó không chỉ xuất hiện ở cả nam giới mà chị em phụ nữ thời đại ngày nay cũng dễ gặp phải căn bệnh quái ác này
BalasHapusChồng yếu sinh lý phải làm sao - có con được không?Chồng yếu sinh lý là một trong những nỗi khổ sở buồn phiền của các bà vợ, nhiều cặp vợ chồng đã tan nát gia đình chỉ vì chồng bị yếu sinh lý.
Cách chữa bệnh yếu sinh lý ở nam giớiYếu sinh lý nam hiện nay đang là vấn đề quan tâm của rất nhiều nam giới, đặc biệt đối với những nam giới đang gặp hiện tượng yếu sinh lý
Cách tăng cường sinh lý ở nam giớiYếu sinh lí là nổi lo của nhiều đấng mai râu trong đời sống tình dục , nó làm cho chàng cảm thấy xấu hổ và tự ti.
Những thực phẩm giúp tăng cường sinh lý namTrong bữa ăn hàng ngày, có rất nhiều loại thực phẩm mà nam giới thích ăn, nhưng các loại thức ăn này không phải là sự lựa chọn sáng suốt để duy trì và tăng sinh lý.
Những thực phẩm giúp tăng cường sinh lý nữTheo khảo sát mới nhất thì yếu sinh lý ở nữ giới chiếm 43% cao hơn đến 12% so với nam giới. Đến một lúc nào đó có sự lãnh cảm, lạnh nhạt trong quan hệ tình dục,
Những cây cảnh phong thuỷ trong văn phòngViệc chọn và đặt vị trí cây xanh phù hợp trong văn phong sẽ có tác dụng không ngờ đến phong thủy, nâng cao sức khỏe và năng suất công việc của bạn.
Bệnh xương thuỷ tinh là bệnh gì?Là thể tương đối nặng, trẻ thường sinh ra đã có gãy xương. Củng mạc mắt thường quá trắng hoặc có màu xám, màu xanh, giảm chức năng hô hấp, giảm thính lực và bất thường về răng.
Lịch vạn niên là gì - cách sử dụng ra sao?Lịch vạn niên dùng để chọn ngày tốt, ngày xấu còn phải dựa vào một loạt “thần sát” của thuật chiêm tinh cổ đại.
Những phương pháp giảm mỡ bụng nhanhVòng bụng đầy mỡ là một nỗi ám ảnh lớn đối với chị em phụ nữ, nó không chỉ làm mất đi vóc dáng hình thể gọn gàng mà còn ảnh hưởng nghiêm trọng tới sức khỏe.
Cách giảm mỡ bụng sau sinh cho mẹ bầuChính vì vậy vấn đề lớn nhất với các mẹ sau sinh là giảm eo. Vòng eo sồ sề ngấn mỡ luôn là nỗi ám ảnh với bất cứ bà mẹ nào